Alamat Pengobatan Herbal De Nature
Perum Cendana Asri No.09, Jl. Raya Pahonjean, Majenang Cilacap. Jawa Tengah 53257
Ph.(0280)623308, Fax.(0280)623327 Cp: 0852-808-777-999 atau 0857-14-6666-55
Wassalamualaikum Wr.Wb
De Nature
Perum Cendana Asri No.09, Jl. Raya Pahonjean, Majenang Cilacap. Jawa Tengah 53257
Ph.(0280)623308, Fax.(0280)623327 Cp: 0852-808-777-999 atau 0857-14-6666-55
De Nature
Parung-Bogor. Sahabat masih ingat dengan Wirayuda ? Anak berusia 9 tahun yang mendapatkan perawatan secara intensif di Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa karena menderita penyakit gangguan gizi Marasmus Kwashiorkor beberapa bulan lalu. Setelah kondisinya semakin membaik dan diperbolehkan untuk pulang dan rawat jalan pada bulan Juni lalu, pada Senin, 04 November 2013 tim RST Dompet Dhuafa pun mengunjungi rumah Wira di Desa Tenjo, Jasinga-Bogor untuk mengetahui perkembangan kesehatan Wira yang dikabarkan sedikit menurun.
Setibanya di rumah Wira, kami pun mendapati Wira dalam keadaan yang lemas dan kurang bergairah.
“Sudah dari 2 minggu yang lalu Wira sakit, waktu itu sebabnya mungkin dia kecapean abis ikut olahraga di sekolah, nafasnya sesak katanya ”ungkap Ibu Wira.
Memang selepas diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan dari RST Dompet Dhuafa bulan Juni yang lalu, akhirnya Wira pun dapat mencicipi bangku sekolah pada tahun ajaran baru ini dan duduk di kelas 1 Sekolah Dasar terdekat. Keinginannya untuk dapat duduk di bangku sekolah beberapa tahun yang lalu, terhambat karena penyakit gangguan gizi yang telah diderita oleh Wira selama 7 tahun lamanya.
“Selama sakit beberapa hari kemarin, berat badan Wira jadi turun 2 kg, dari sebelumnya 16kg sekarang menjadi 14kg. Berat badannya turun juga karena Wira makannya susah, tetap suka pilih-pilih makanan, kita sih sudah berusaha membujuk Wira untuk makan apa saja tapi dia nya tetap enggak mau. ” terang Ayah Wira.
Berdasarkan keterangan dari Ayah Wira, saat sakit Wira sudah mendapatkan pemeriksaan oleh dokter yang dibawa ke rumahnya oleh seorang relawan yang selama ini perduli terhadap kesehatan Wira.
“Wira sudah diperiksa sama dokter, terus dikasih beberapa obat dan vitamin untuk menambah nafsu makannya, tapi kayanya enggak terlalu berpengaruh, ” ungkapnya.
Khawatir keadaan Wira akan semakin menurun, maka perawat dari RST Dompet Dhuafa yang ikut dalam kunjungan saat itu pun mengarahkan orangtua Wira segera membawa Wira untuk kontrol ke dokter spesialis anak RST agar mendapatkan informasi lebih lengkap terkait perkembangan kesehatan Wira.
“Wira harus makan yang banyak yah, makan apa aja supaya cepat sembuh, kalau sudah sembuh kan bisa main lagi sama adik dan teman-teman yang lain,” kata perawat kepada Wira yang saat itu berada dan tidak mau lepas dari pangkuan ayahnya.
“Ibu dan bapak juga harus bekerja sama bagaimana caranya Wira harus mau makan, harus dipaksakan ya karena kalau menuruti keinginan Wira yang tidak mau makan terus nanti kondisinya bisa menurun lagi, kalau bisa Wira juga jangan melakukan aktivitas yang terlalu berat dulu, tunggu sampai kesehatannya benar-benar pulih, “ tambah perawat.
Dan 2 hari berselang setelah mendapatkan kunjungan dari tim RST Dompet Dhuafa, Kamis kemarin Wira beserta ayahnya pun datang ke RST untuk kontrol ke dokter spesialis anak. Setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis anak didapatkan hasil bahwa sesak nafas yang diderita oleh Wira akibat dari asap rokok yang dihirup olehnya. Ayah Wira memang seorang perokok, sehingga secara tidak langsung Wira pun sering menghirup asap rokok tersebut di rumahnya.
Dokter mengedukasi ayah Wira untuk menghentikan kebiasaan merokoknya, agar Wira tidak mengalami lagi sesak nafas di kemudian harinya.
Setelah diperiksa, dokter pun memberikan beberapa obat dan vitamin untuk Wira serta menyampaikan pesan kepada Ayah Wira untuk berhenti merokok demi kesehatan Wira. (tie/yhm)
Parung – Bogor. Dibalik wajah dan sifatnya yang riang dan ceria, pasti banyak yang tidak menyangka bahwa anak kecil nan lucu ini menderita sebuah kelainan. Duta (3) didiagnosa menderita hypospadia yaitu merupakan kelainan genetalia/penis dimana lubang kencing tidak berada di ujung kepala tetapi di bawah, di batang, atau di antara buah zakar. Itu mengakibatkan penderita terpaksa jongkok ketika kencing.
Supatmi, ibu Duta menyampaikan bahwa kelainan pada alat kelamin Duta terlihat setelah ia berusia 2 hari.
“ Pada saat lahir memang saya merasakan perasaan yang tidak enak. Duta kan saat itu lahir di bidan, waktu lahiran bidan tidak mengatakan apa-apa tentang kelainan ini, lalu setelah Duta berusia 2 hari baru terlihat kelainan di alat kelaminnya.” ungkap Supatmi.
Mengetahui terdapat kelainan pada alat vital anak keduanya ini awalnya Supatmi pun hanya bisa pasrah karena ia tidak memiliki cukup biaya untuk dapat mengobati anaknya.
“Ya saya hanya bekerja serabutan seperti menjual kembali barang – barang dari orang dan pekerjaan apa saja pokoknya yang penting halal, sedangkan suami saya seorang pedagang mie ayam keliling dengan penghasilan tidak menentu,”ungkap Supatmi.
Tidak lama berselang, berharap dapat membawa anaknya berobat, akhirnya berkat bantuan dari seorang kader kesehatan akhirnya Duta pun dibawa ke Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa untuk mendapatkan pengobatan.
Setelah mendapatkan pemeriksaan oleh dokter di RST Dompet Dhuafa dan melihat kondisi kelainan pada alat vital Duta, maka perlu dilakukan rujukan ke rumah sakit yang memiliki tim dokter dan fasilitas yang lebih lengkap untuk penanganannya. Akhirnya, RST Dompet Dhuafa pun merujuk dan mendampingi Duta ke sebuah rumah sakit di Jakarta dan di rumah sakit tersebut, Duta telah menjalani pemeriksaan seperti cek kromosom dan pemeriksaan lab hormonal. Selain itu, Duta juga telah mendapatkan tindakan berupa suntik hormon.
Penanganan selanjutnya untuk Duta sendiri yaitu direncanakan akan diambil tindakan operasi. Tindakan operasi untuk anak penderita hypospodia ini diharapkan dilakukan sedini mungkin sebelum anak memasuki usia sekolah, hal ini dilakukan agar anak tidak malu dengan keadaanya bahwa ia memiliki kelainan dari anak laki-laki seusianya.
“Saya hanya berharap, Duta bisa segera dioperasi dan memiliki alat kelamin yang normal kembali seperti anak seusianya. Mungkin saat ini ia masih belum mengerti apa yang telah terjadi pada dirinya, tapi saya kasihan kalau nanti dia sudah besar dan belum dioperasi juga bagaimana nasibnya nanti,” ungkap Supatmi.
Semoga dengan bantuan dari para donatur dan muzaki serta masyarakat, Duta dapat sembuh dan normal kembali. Dan kami, RST Dompet Dhuafa akan mendampingi sepenuh hati sampai tindakan operasi selesai dilakukan dan Duta dinyatakan sembuh oleh tim dokter yang menanganinya. (tie/yhm)
Jayapura, 1/11 (Jubi) – Gubernur Papua, Lukas Enembe meresmikan pembangunan rumah sehat dengan tipe 45 yang dilengkapi dengan listrik dan air di Telaga Ria, Kampung Asey Kecil, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (1/11). Rumah sehat sebanyak 26 rumah untuk 26 Kepala Keluarga (KK) yang ada di wilayah tersebut.
Lukas Enembe mengatakan, dana untuk pembangunan rumah tersebut bukan berasal dari dana APBD melainkan partisipasi Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Jayapura dan mitra seperti Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Indonesia Sawmill Woodworking Association (ISWA).
“Saya apresiasi apa yang dilakukan Pemda Kabupaten Jayapura dan mitra. Saya salut karena tepat 202 hari masa kepemimpinan saya dan wakil gubernur sudah ada yang bisa menterjemahkan keinginan kami membantu saudara-saudara kita yang masih hidup tidak layak. Pembangunan rumah ini tidak dibiayai APBD, tapi orang-orang yang peduli akan masyarakat asli Papua,” kata Lukas Enembe, Jumat (1/11).
Menurutnya, pembangunan 26 rumah tersebut bukan merupakan bagian dari rencana Pemerintah Provinsi Papua untuk membangun 13.000 rumah layak huni bagi masyarakat asli Papua di seluruh Tanah Papua.
“Ini bukan bagian dari rencana Pemerintah Provinsi Papua untuk mambanguan 13.000 rumah layak huni di seluruh Papua. Pembangunan rumah ini dari partisipasi mitra. Jadi mari kita semua sepakat menjadikan Papua tanah damai, penuh kasih dan persaudaraan utk melakukan perubahan besar,” ujarnya.
Dikatakan, dengan dukungan dari semua pihak dan pemerintah pusat, tentu bisa mewujudkan fase Papua Mandiri, Papua Sejahtera. “Kita harus kompak membangun Papua lebih baik lagi. Harapan saya, rumah warga sepanjang jalan Sentani ke Kota Jayapura diperbaiki semua,” kata Lukas Enembe.
Sementara itu Ketua Indonesia Sawmill Woodworking Association (ISWA), Daniel Gaerden mengatakan, Papua memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Selain itu rencana pembangunan 26 unit rumah tersebut juga berkaitan dengan program gubernur dan wakil gubernur.
“Kebetulan kami bergerak dibidang kehutanan. Kami dikumpulkan Dinas Kehutanan untuk berperan aktif memulai contoh rumah sehat. Kalau ada yang ingin berpartisipasi mencontoh apa yang ada ini karena ini termasuk rumah layak huni dan ideal. Tentu kita berharap pelaku usaha lainnya pun tergerak hatinya untuk membangun rumah,” kata Daniel Gerden.
Daniel mengatakan, dana yang digunakan untuk pembangunan rumah sehat tersebut bersumber dari APHI dan ISWA dimana per unit rumah biayanya mencapai Rp. 150 juta.
“Inikan bangunannya dasarnya air, jadi memang biayanya lebih besar. Hitung-hitungannya Rp. 150 juta per rumah. Total biaya untuk 26 unit rumah kurang lebih Rp. 5 miliar. Itu sudah termasuk pemasangan listrik dan airnya serta pembayaran tanah. Kami tergetnya 26 unit rumah ini sudah rampung sebelum Natal, sehingga saat Natal masyarakat sudah Natalan di dalam rumah baru,” ujar Daniel Gerden. (Jubi/Arjuna)
Ternyata rumah idaman itu tidak dapat diukur dari tingkat kemewahan, luas tanah, dan lengkapnya furniture loh. Meskipun sederhana, sebuah bangunan dapat disebut sebagai rumah idaman apabila keadaan dan lingkungannya memenuhi kriteria rumah sehat berikut ini:
Ingin membangun rumah idaman yang sehat? Anda harus menggunakan jasa kontraktor bangungan yang tepat!
Membangun atau merenovasi rumah membutuhkan dana yang banyak. Selain itu juga perlu waktu untuk pelaksanaan renovasi ataupun pembangunan rumah. Jadi semua faktor-faktor tersebut harus diperhatikan dengan baik agsr semua pekerjaan berjalan lancar dan hasilnya memuaskan.
Ada hal penting dalam membangun dan merenovasi rumah yang perlu diterapkan, yaitu prinsip pembangunan rumah sehat. Prinsip ini penting, agar ketika kita tinggal dalam rumah tersebut, kita bisa menikmati rumah yang memberikan dukungan hidup sehat untuk semua penghuni rumah.
Prinsip rumah sehat antara lain pengaturan ventilasi untuk keluar masuknya udara agar udara segar tetap dapat dinikmati dalam rumah. Cukupnya cahaya yang masuk dalam rumah membuat rumah menjadi rumah yang sehat. Memberi ruang untuk menanam pohon adalah rencana yang bagus yang menunjang rumah yang sehat.
Selain itu, perlu juga menglola sampah dan limbah lainnya dengan semestinya. Bila prinsip rumah sehat ada dalam rumah dan kehidupan kita, kita akan bisa menikmati hidup sehat.
Jadi sebelum membangun atau merenovasi rumah haruslah merencakan semuanya dengan baik.
Post filed under Rumah and tagged Membangun Rumah, Merenovasi Rumah, Prinsip Rumah Sehat, Rumah, Rumah Sehat.Parung-Bogor. Saat kami temui, perempuan ini sedang memakan roti secara perlahan – lahan didampingi oleh saudaranya. Kemah (69) di masa senjanya didiagnosa menderita Fraktur Collum Femur Sinistra yaitu patah tulang pada paha sebelah kiri dan permasalahan jantung.
Melihat usianya yang sudah lebih dari setengah abad, siapapun tentunya tidak tega melihat kondisi Kemah saat ini. Berdasarkan keterangan dari Rohmah saudara dari Kemah, sekarang Kemah pun tidak memiliki saudara dekat. Suami Kemah sudah meninggal sejak lama dan Kemah sendiri pun tidak memiliki anak.
Dalam kesehariannya, wanita kelahiran tahun 1944 ini tinggal dan beraktivitas sendiri di rumah yang diberikan oleh mantan majikannya.
“Emak tinggal sendiri di rumah, kadang keponakan saya yang temenin dia disana, suka nginep juga tapi kalau ponakan saya lagi enggak di rumah emak, ya dia tinggal sendirian paling nitip dan diperhatiin sama tetangga, “ ungkap Rohmah.
Menurut Rohma yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal Kemah, awal mula Kemah terjatuh adalah karena tersandung kayu tempat tidur tiga bulan yang lalu.
“Saya tahu dari tetangganya, karena saat itu saya tidak ada di tempat, mereka bilang emak kesandung kayu tempat tidur lalu jatuh, mungkin karena memang faktor usia jadi agak sedikit parah” ucap Rohma.
Setelah jatuh Kemah pun sempat diurut oleh tukang urut desa setempat. Namun karena tidak kunjung sembuh setelah 3 kali diurut akhirnya Kemah pun tidak melanjutkannya.
“Setelah diurut itu, kaki emak bukannya sembuh tapi membengkak, jadi kita enggak lanjutin lagi, “kata Rohmah
“Mau dibawa kemana juga saya bingung karena kalau ke rumah sakit pasti biayanya mahal,” tambah Rohmah.
Untuk biaya kehidupannya sehari-hari, Kemah diberikan santunan oleh mantan majikannya. Rohmah pun menyampaikan karena Kemah sudah bekerja bertahun-tahun disana sehingga mantan majikannya itu pun masih memberikan sedikit uang dan rumah sederhana untuk ditinggali Kemah.
Dengan kondisi kaki yang membengkak, Kemah yang dalam kesehariannya masih tergolong aktif pun jadi hanya bisa duduk dan berdiam diri di rumah saja.
Tiga bulan kemudian setelah peristiwa itu, akhirnya berkat bantuan dari seseorang yang tidak tega melihat kondisi Kemah, ia pun berinisiatif untuk membawa Kemah ke Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa.
Kondisi Kemah sendiri pada saat masuk ke RST Dompet Dhuafa, ia merasakan nyeri di pinggang dan menjalar ke paha kanan, kakinya membengkak dan nafasnya sesak.
Selama hampir kurang lebih 2 minggu dirawat di RST Dompet Dhuafa, telah dilakukan penanganan untuk patah tulang dengan metode skin traksi pada Kemah, Senin 21 Oktober 2013 lalu. Dan rencana penanganan selanjutnya berdasarkan keterangan dokter spesialis bedah tulang (Sp.Orthopedia) RST Dompet Dhuafa, akan dilakukan tindakan operasi (bipolar artroplasty bone sement) yang maksimal akan dilakukan 2 pekan setelah pemasangan skin traksi.
Pertimbangan operasi ini diambil dengan harapan agar pasien dapat melakukan pergerakan dan beraktifitas normal kembali dimasa-masa yang akan datang. Perjuangan dan harapan untuk kesembuhan di masa senja Kemah yang harus kita dukung bersama.(tie/yhm)
Menyusui adalah cara alamiah yang direkomendasikan untuk diberikan kepada semua bayi. Dan air susu ibu (ASI) merupakan makanan dan minuman yang terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan (secara eksklusif atau hanya ASI saja) dan dilanjutkan sampai bayi berusia 2 tahun dengan makanan pendamping ASI.
Bayi usia 0-6 bulan tidak memerlukan air atau makanan lainnya (seperti air teh, jus, air gula, air beras, susu lain dan bubur), walaupun berada di daerah yang beriklim panas sekalipun, ASI sudah dianggap memenuhi seluruh kebutuhan bayi. Jadi seorang ibu harus menyusui ASI kepada bayinya secara eksklusif saat bayi berumur 0 – 6 bulan dan dengan makanan pendamping ASI saat bayi berumur 7 – 24 bulan.
Dengan menyusui ASI dan tidak memberikan susu formula pada bayi, terutama saat bayi berusia 0-6 bulan, ternyata secara data memberikan dampak yang baik untuk negara. Dengan ASI, negara akan menjadi kuat secara aspek ekonomi dan negara semakin bersih karena tidak adanya polusi yang merusak lingkungan.
Secara aspek ekonomi, dengan ASI menjadi gerakan bersama di masyarakat, akan dapat membantu menimbulkan potensi penghematan dan akhirnya dapat menekan defisit anggaran negara serta mencegah meningkatnya angka kemiskinan. Dengan perhitungan berikut ini, dapatlah dipahami bahwa ASI menjadikan negara kuat secara aspek ekonomi.
Berdasarkan data, jumlah bayi di Indonesia tahun 2013 sebanyak 4,6 juta dimana cakupan ASI Eksklusifnya (SDKI 2012) hanya sebesar 27%. Berarti hanya sekitar 1.242.000 bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif, dan sisanya sekitar 3.358.000 bayi diberikan susu formula (sufor) selama 0-6 bulan. Biasanya, sufor dalam kemasan kaleng 800 gram akan habis dalam 5 hari, sehingga dalam 6 bulan diperlukan sekitar 36 kaleng sufor.
Harga sufor kemasan kaleng 800mg yang termurah adalah Rp 21.000,- (dua puluh satu ribu rupiah) dan yang termahal sekitar Rp 320.000,- (tiga ratus dua puluh ribu rupiah), atau kalau dirata-rata harganya berkisar Rp 116.000,- (seratus enam belas ribu rupiah) per kaleng 800mg. Sesungguhnya terdapat potensi penghematan anggaran yang cukup besar apabila diberikanpada seluruh bayi (berjumlah 4,6 juta) ASI Eksklusif dan tidak menggunakan sufor, yaitu sekitar 19 trilyun (menggunakan harga rata-rata), hal tersebut belum termasuk biaya bahan bakar minyak (BBM) dan air yang juga dihemat.
Di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) RI di tahun 2013, terjadi defisit anggaran sebesar 125 trilyun (penerimaan sebesar 1.292 trilyun dan pengeluaran sebesar 1.418 trilyun). Dengan ASI, terutama pada ASI Eksklusif, terdapat potensi penghematan yang cukup besar.
Di sisi lain, dengan ASI dapat mencegah meningkatnya angka kemiskinan penduduk, Penghasilan rata-rata penduduk Indonesia dalam garis kemiskinan, sekitar >42% (97 juta orang) adalah 2 US$ / hari, kira-kira setara dengan Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 720.000,- (tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) setiap bulan. Apabila memiliki bayi dan diberikan ASI Eksklusif dan tidak diberikan sufor, maka terjadi penghematan biaya yang dikeluarkan dalam keluarga sekitar Rp 696.000,- (enam ratus sembilan puluh enam ribu rupiah) setiap bulannya (6 kaleng sufor dikalikan harga rata-rata 1 kaleng sufor sebesar Rp 116.000,-).
Dengan tidak adanya beban biaya tambahan untuk membeli sufor, maka keluarga dengan penghasilan terbatas tersebut dan masuk kategori miskin akan dapat dicegah untuk tidak menjadi lebih miskin. Dan keluarganya lainnya, yang juga memiliki keterbatasan tetapi tidak masuk kategori miskin, dengan ASI pada bayinya secara eksklusif akan mencegahnya menjadi keluarga miskin.
Dengan ASI, selain negara menjadi kuat secara aspek ekonomi, ternyata dapat membuat negara menjadi lebih bersih. Menyusui ASI, tidak menghasilkan sampah atau jejak karbon, istilahnya adalah NOL jejak karbon (carbon footprint). Dimana jejak karbon merupakan volume karbon yg diemisikan/dihasilkan oleh aktivitas, individu, komunitas, organisasi, atau bisni). Menyusui ASI juga tidak membutuhkan air bersih, istilahnya adalah NOL jejak air(water footprint). Jejak air adalah volume air bersih yang digunakan dalam kegiatan individu, komunitas, atau bisnis.Kedua indikator tersebut merupakan indikator yang dikaitkan dengan upaya menyelamatkan pohon, lahan, dan hutan.
Dalam suatu penelitian di Meksiko, disimpulkan bahwa untuk membuat 1 kg sufor bubuk dihasilkan dari 12,5 m² hutan tropis.
Dengan habisnya hutan menyebabkan kerusakan lapisan ozon dan kerusakan lingkungan. Sedangkan di Amerika, bila semua ibu tidak menyusui, dalam 1 tahun dibutuhkan 86 ribu ton timah untuk membuat 550 juta kaleng susu bayi dan 1.230 ton label kertas untuk membuat labelnya, pada akhirnya akan menjadi limbah dan menimbulkan masalah polusi lingkungan. Selain itu, apabila memberikan sufor, maka diperlukan botol dan dot memerlukan plastik, kaca, karet, dan silikon yang semuanya tidak dapat di daurulang yang menimbulkan masalah polusi.
Dengan memberikan ASI dan tidak menggunakan sufor, maka negara akan menjadi kuat secara aspek ekonomi dan negara menjadi lebih bersih karena lingkungan terpelihara dan polusi dapat dicegah.
Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas, keluarga sejahtera, negara sehat dan kuat serta lebih bersih..